Kolaborasi Internasional tentang Kenaikan Muka Air Laut dan Dampaknya pada Zona Pesisir dalam Perubahan Iklim: Praktik Nyata Tiongkok Melestarikan Wilayah Pesisir
IOC/OTGA RTC China 2025 Training Course
Sea Level Rise and Its Impact on Coastal Zones
Under Climate Change
Tianjin, 20-29 May 2025
Kenaikan muka air laut (sea level rise/SLR) merupakan salah satu tantangan paling mendesak yang dihadapi komunitas global di era perubahan iklim. Negara-negara pesisir seperti Tiongkok dan Indonesia berada di garis depan dalam menghadapi ancaman ini, yang tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir. Melalui pelatihan internasional yang diselenggarakan oleh UNESCO IOC Ocean Teacher Global Academy [OTGA] bekerjasama dengan National Marine Data and Information Service [NMDIS] People’s Republic of China di Tianjin, Tiongkok dimana para peserta berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia guna memperkuat kapasitas dan jejaring internasional dalam mengatasi tantangan SLR secara kolaboratif.

Pelatihan Internasional di Tianjin: Meningkatkan Kapasitas Global
Pada tanggal 20–29 Mei 2025, National Marine Data and Information Service [NMDIS] di Tianjin, Tiongkok menjadi tuan rumah pelatihan “Sea Level Rise and Its Impact on Coastal Zones under Climate Change” yang diikuti oleh 19 [Sembilan belas] orang peserta dari 8 [delapan] negara di kawasan Asia dan Afrika, termasuk dari Program Studi diluar Kampus Utama [PSDKU] Universitas Padjadjaran [Unpad] Pangandaran, yaitu Alexander M. A. Khan, sebagai dosen dan peneliti. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman ilmiah, keterampilan analisis, serta strategi kebijakan terkait SLR dan dampaknya pada zona pesisir di Kawasan Asia dan Afrika. Dalam pelatihan tersebut, materi diberikan dari berbagai sumber yang berkompeten di bidangnya, termasuk oleh Professor Long Cao dari salah satu universitas terbaik di Tiongkok, Zhejiang University dan Professor Weidong YU dari Sun Yat-Sen University dengan materi Monsoon, Marinewaves and their Social and Ecological Impacts, selanjutnya materi lainnya diantaranya:
- Mekanisme ilmiah kenaikan muka air laut dan kaitannya dengan perubahan iklim.
- Strategi perlindungan pesisir berbasis pengalaman negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara.
- Penguatan ketahanan iklim dan kesiapsiagaan bencana melalui observasi lapangan dan analisis prediktif.
- Inovasi teknologi informasi kelautan dan pengelolaan data pesisir.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam merancang kebijakan yang seimbang antara perlindungan ekologi dan pembangunan ekonomi.

Tiongkok: Praktik Nyata dalam Melestarikan Zona Pesisir
Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang ketiga di dunia setelah Indonesia, Tiongkok menghadapi risiko signifikan akibat SLR. Namun, Tiongkok juga menjadi model dalam pengelolaan pesisir berbasis sains dan aksi nyata. Berikut adalah beberapa praktik utama yang diskusikan selama pelatihan, diantaranya adalah:
- Penguatan Sistem Observasi dan Data, dimana Tiongkok melalui NMDIS membangun sistem pemantauan laut yang canggih, termasuk stasiun pengukuran muka air laut, pemetaan perubahan morfologi pantai, dan pengumpulan data ekosistem pesisir secara berkala. Data ini menjadi dasar dalam perumusan kebijakan dan respons adaptif terhadap perubahan iklim;
- Restorasi Ekosistem Pesisir, melalui kegiatan restorasi mangrove, rawa asin, dan padang lamun menjadi prioritas dalam meningkatkan ketahanan alami pesisir. Rehabilitasi ekosistem ini terbukti efektif menahan abrasi, mengurangi intrusi air laut, serta mendukung keanekaragaman hayati;
- Pengembangan Infrastruktur Adaptif, Pembangunan infrastruktur Pantai, yaitu pembangunan tanggul pantai, sabuk hijau, serta sistem peringatan dini bencana berbasis teknologi merupakan bagian integral dari kebijakan perlindungan pesisir. Infrastruktur hijau dan biru ini dirancang untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang dinamis;
- Kolaborasi Regional dan Global, peran aktif Tiongkok dalam kerja sama riset dan pelatihan dengan negara-negara ASEAN dan organisasi internasional seperti IOC-UNESCO. Sehingga kolaborasi ini pada akhirnya akan memperkuat pertukaran pengetahuan, teknologi, dan pengalaman dalam menghadapi SLR secara kolektif.

Peran Komunitas Internasional dan Kontribusi Indonesia
Pelatihan di Tianjin mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi dari berbagai negara untuk berbagi solusi. Bagi Indonesia, pelatihan ini memberikan sejumlah pembelajaran penting, diantaranya adalah:
- Urgensi Penguatan Sistem Data, sebagai negara kepulauan maka Indonesia perlu memperkuat sistem pemantauan pesisir, baik melalui modernisasi alat maupun integrasi data lintas sektor;
- Restorasi Ekosistem sebagai Solusi Berbasis Alam, berdasarkan pengalaman Tiongkok dalam restorasi mangrove dan ekosistem pesisir dirasakan sangat relevan untuk diterapkan di kawasan rawan abrasi dan banjir rob di Indonesia;
- Peningkatan Kapasitas SDM melalui kegiatan pelatihan internasional seperti ini memungkinkan SDM Indonesia mengadopsi teknologi dan metodologi terbaru dalam pengelolaan pesisir;
- Kolaborasi Regional, sebagai negara kepulauan di Kawasan Asia Tenggara maka Indonesia harus terus aktif dalam forum-forum internasional dan memperkuat sinergi dengan negara-negara tetangga untuk mengatasi tantangan bersama di Asia Tenggara.

Kolaborasi internasional dalam pelatihan ini menunjukkan bahwa tantangan SLR tidak bisa diatasi secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi lintas negara dan disiplin. Beberapa rekomendasi yang dihasilkan antara lain:
- Pengembangan kebijakan adaptasi berbasis sains dan data;
- Investasi pada infrastruktur hijau dan teknologi adaptif;
- Penguatan edukasi publik dan pelibatan masyarakat pesisir dalam upaya mitigasi;
- Mendorong riset kolaboratif dan pertukaran pengetahuan antarnegara.
Keterlibatan aktif Indonesia dalam pelatihan internasional seperti di Tianjin, Tiongkok, membuktikan komitmen bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kenaikan muka air laut secara global. Melalui pembelajaran dari Tiongkok dan negara lain, Indonesia dapat memperkuat kebijakan, inovasi, dan aksi nyata dalam melindungi zona pesisir demi masa depan yang berkelanjutan.
